28 Desember 2015

Kelas Sains dan Dongeng

0

Di hari yang cerah, Kak Aulia dihubungi oleh seseorang mengenai ICHI. Beliau bernama Bu Hera, dan beliau bersama dengan anak-anaknya ingin membuat kelas di Rumbel ICHI. Belum lagi, beliau akan membawa pendongeng ikut serta! Wah, sepertinya kelasnya akan sangat menyenangkan!

Pagi itu Bu Hera datang bersama teman dan anak-anaknya, membawa bahan-bahan yang diperlukan untuk kelas sains. Proyek sains sederhana yang disiapkan oleh Bu Hera dan keluarga adalah membuat balon gas, telepon dari kaleng, dan gasing. Langkah-langkahnya sederhana dan mudah diikuti. Sebelum kelas sains dimulai, Bu Hera mempersilakan Pak Joy untuk berdongeng. Dongengnya seru, menyenangkan, dan sarat akan nasihat. Semua adik-adik ICHI memperhatikan dengan seksama saat Pak Joy bercerita. Ekspresi mereka mengikuti ekspresi Pak Joy yang kerap berubah sesuai dengan tokoh dan cerita yang ia bawa. Seru!




Setelah puas tertawa mendengarkan dongeng dari Pak Joy, adik-adik masuk ke mode serius. Anak-anak Bu Hera yang sudah biasa mengadakan kelas sains pun mengambil posisi mereka masing-masing. Mereka menggelar alat-alat yang dibutuhkan untuk masing-masing proyek sains di meja yang terpisah, membentuk stand-stand kecil dengan dua asisten di masing-masingnya. Adik-adik ICHI bergantian mendatangi stand-stand tersebut dan mencoba masing-masing proyek sains. Di meja balon gas, bubuk baking soda bertebaran dan air terciprat ke sana-sini. Sementara itu, benang bahan telepon kaleng malang-melintang di ruangan. Seru sekali!


 






Sebelum kelas berakhir, salah satu anak Bu Hera membagikan kue dalam rangka berulang tahun! Hore, makan kue!



Terima kasih sudah mampir ke Rumah Belajar ICHI, Bu Hera dan keluarga. Sampai jumpa lagi. :)


Salam,
Aulia Agassi

Kelas Angklung

0

Sudah beberapa waktu berlalu sejak Kelas Angklung pertama kali diadakan. Minggu ini, karena kak Ricko sedang berada di Jakarta, akhirnya angklung-angklung ICHI dikeluarkan lagi dari kardus! 


Sambil menunggu Kak Ricko menulis-nulis not untuk lagu yang akan dimainkan, kakak-kakak dan adik-adik ICHI berbincang (tidak) santai soal tebak-tebakan terkini. Sekaligus juga, main domikado.


Setelah siap, Kak Ricko membagikan angklung satu per satu kepada para adik dan juga kakak dan meminta semua berbaris sesuai angklung yang dipegang. Setelah briefing singkat tentang cara memainkan angklung, Kak Ricko pun mulai memberi aba-aba. Semua mulai mengikuti Kak Ricko dan memainkan angklungnya dengan serius. Lagu yang dipilih untuk dimainkan hari itu adalah Bintang Kecil, Naik Delman, dan Ibu Kita Kartini.






Semua senang! Jadi tidak sabar untuk kelas minggu depan.


Salam, 
Aulia Agassi

Sampai Jumpa Kak Satu!

0

Hari Minggu ini, kegiatan Rumbel Ichi berfokus pada sang founder, Kak Satu. Hari ini adalah hari Minggu terakhir Kak Satu datang ke Rumbel Ichi sebelum menghabiskan 104 minggu berikutnya belajar di Swedia. Di hari perpisahan temporer ini, Kak Satu berdongeng tentang seorang anak bernama Lolo, yang dengan gigihnya berusaha mencapai cita-citanya untuk bersekolah di tempat yang jauh. Meski kami semua sih tahu kalau Lolo itu nama samaran untuk Kak Satu, karena cerita yang didongengkan sebenarnya adalah kisah Kak Satu sendiri.




Keberangkatan Kak Satu untuk berkuliah ke luar negeri ini diharapkan dapat menginspirasi dan memotivasi adik-adik Rumbel Ichi untuk terus belajar untuk menggapai cita-cita mereka.

Selain itu, hari itu juga adik-adik mendapat banyak buku bacaan dan pelajaran baru dari Kak Fifih. Mereka antusias ingin membaca buku baru, bahkan berebut membawa pulang.


Sebelum pulang, beberapa adik diminta untuk tampil mendadak di depan kelas. Mereka ternyata telah belajar menari bersama, maka dengan diiringi lagu dari youtube, mereka pun mulai menari. 

Tarian pertama adalah Tari Indang. Lucu dan indah, melihat gerakan mereka yang (mencoba) beraturan. Setelahnya, Tasya, salah satu adik, bilang ingin menari dengan diiringi lagu Cherrybelle. Tentu, para kakak pengajar pun mencarikan lagunya. Tampil di depan kelas seperti ini adalah salah satu cara adik-adik mengatasi rasa malu untuk tampil di publik. Sayangnya, adik-adik yang lebih kecil terlalu malu untuk tampil.

 Tari lagu Cherrybelle

Tari Dindin Ba Dindin dari Sumatera Barat 

Foto bersama

Setelah berfoto bersama (ayolah, ini kelas terakhir sebelum 104 minggu tanpa Kak Satu), kelas pun disudahi. Beberapa kakak tetap di kelas untuk mengevaluasi kelas hari itu, lalu tiba-tiba beberapa adik kecil datang lagi. Rupanya mereka ingin menari juga. Lagu yang mereka pilih, tentu saja di luar ekspektasi kami, adalah lagu berjudul Naik Odong-Odong. Lagu kanak-kanak yang kekinian sekali.

Yah, sampai jumpa 104 minggu lagi, Kak Satu! Semoga kuliahnya lancar!


Salam,
Aulia Agassi

16 Juni 2015

Kelas Berkebun 14 Juni 2015

0

Pada hari Minggu tanggal 14 Juni 2015 yang lalu kegiatan Rumbel ICHI sedikit berbeda dari minggu-minggu biasanya. Adik-adik sedikit bertanya-tanya ketika mereka melihat satu kantong plastik besar berisi tanah bercampur pupuk dan sekam, dan beberapa polybag berisi bibit tanaman di depan pintu kelas. Kak Riwe dan Kak Mira menjelaskan bahwa hari itu kami akan berkebun. Dengan rasa penasaran adik-adik mengintip ke dalam plastik berisi tanah lalu berteriak : 

“Kak ini banyak semutnya!”
“Kak ada uletnya!”

Kak Mira menjelaskan bahwa semut dan ulat sangat baik untuk menyuburkan tanah sehingga tanaman akan tumbuh baik, namun adik-adik sedikit ragu. 

“Kak semutnya semut merah nih, gatel nih kalo digigit.”

Kami pun memimpin adik-adik untuk berkumpul, membentuk formasi lingkaran, dan berdoa. Lalu kak Riwe dan kak Mira menjelaskan pentingnya merawat dan melestarikan tanaman bagi kehidupan manusia. Selain dapat dimakan hasilnya seperti buah-buahan dan sayur mayur, tanaman merupakan paru-paru dunia dan juga dapat memperluas area penyerapan air sehingga mencegah banjir.

Kak Riwe dan kak Mira membagi adik-adik ke dalam 10 kelompok. Masing-masing kelompok beranggotakan 3 orang. Dalam pembagian kelompok ini sedikit tricky karena adik-adik ingin menentukan kelompoknya sendiri, sedangkan kakak-kakak bermaksud mengelompokkan adik-adik secara adil agar adik-adik PAUD dapat bercampur dalam kelompok adik-adik yang lebih besar agar bisa dibantu. Akhirnya adik-adik bersedia berhitung untuk menentukan kelompok mereka. Setelah itu kami semua keluar menuju lapangan futsal di depan kelas Rumbel.

Sebelum memulai pelajaran, kak Riwe menjelaskan tahapan-tahapan yang akan dilakukan. Adik-adik masih tampak ragu-ragu sambil mengintip kantong plastik berisi tanah. Kak Melati, kak Ica, kak Nadine, kak Reza, dan kak Irma mendampingi tiap kelompok adik-adik. Kak Mira membagikan polybag kepada tiap kelompok, masing-masing 2 untuk bibit tanaman tomat dan duku.

Kak Riwe sedang mempraktekkan mengisi tanah ke dalam polybag 

 Bibit pohon tomat yang sudah dipindahkan ke polybag

Adik-adik memindahkan bibit duku ke polybag 

Puja dan pohon duku miliknya 

"Kak, aku minta polybag lagi!" kata Hikmah 

Mengambil campuran tanah, sekam, dan pupuk. 

Kak Riwe dan Kak Nadine membagikan bibit tomat. 

Riri dan pohon duku. 

Kak Reza membantu Zahra yang masih di kelas PAUD 

Farah bersama pohon tomat dan duku. 

Pohon tomat. 


Bani dan Riri 


Pohonnya jadi banyak! 


Pohonnya diberi nama 


Kak Riwe memberi contoh adik-adik bagaimana cara mengisi setengah polybag dengan tanah yang sudah tercampur pupuk dan sekam, lalu mengambil satu batang bibit tomat dan duku secara perlahan jangan sampai akar atau batangnya patah, lalu menanamnya di polybag yang baru, menambahkan tanah dan memadatkan isi polybag. Setelah diberi contoh, tak disangka adik-adik langsung antusias mengikuti tanpa ragu lagi akan adanya semut dan ulat. Bahkan kali ini semua adik ingin menanam masing-masing dua tanaman, tomat dan duku, meskipun kelompoknya sudah selesai menanam. Mereka ingin sekali membawa dua tanaman pulang ke rumah masing-masing. Sangat mengejutkan namun membuat kami semua senang dengan antusiasme mereka.

Setelah semua adik selesai menanam tomat dan duku, kakak-kakak mengajarkan bagaimana cara menyiram tanaman mereka. Minimal harus disiram sekali sehari dengan air secukupnya, jangan sampai terlalu becek atau bahkan banjir. Pastikan tanaman tidak kering dan terkena cahaya matahari namun tidak terlalu panas. Kakak-kakak membantu adik-adik menempelkan label nama pada tiap polybag mereka, dan membagikan lembar kontrol tanaman.



Lembar ini harus diisi ketika ada perubahan kondisi pada tanaman pada masing-masing jenis tanaman. Kakak-kakak menjelaskan cara pengisian lembar ini. Pada lembar ini diisikan hari dan tanggal pengisian. Apakah ada mata tunas baru yang muncul, jika ada maka berapa panjangnya dalam cm. Apakah ada daun baru yang tumbuh, berapakah jumlahnya. Dan yang terakhir keadaan tanaman untuk mengontrol adanya hama atau penyakit yang muncul. Lembar kontrol tanaman ini akan dicek setiap kelas Rumbel hari Minggu oleh kakak-kakak untuk mengawasi kedisiplinan adik-adik dalam merawat tanamannya masing-masing.

Kak Ica membagikan lembar kontrol tanaman 

 Kak Riwe menjelaskan cara mengisi lembar kontrol tanaman.


Mutia dan tanamannya. 

Mendengar penjelasan Kak Riwe. 


Kak Irma membantu adik-adik mengisi. 

Sehabis menanam, tak lupa kami semua pergi ke Mesjid di dekat sana untuk mencuci tangan memakai sabun. Itu penting, agar kuman-kuman yang terdapat di dalam tanah tidak menempel di tangan. Selesai mencuci tangan bersama, kami berkumpul lagi untuk menutup kelas dengan doa bersama.

Kelas Rumbel hari itu berakhir dengan menyenangkan. Semoga pohon-pohonnya tumbuh sehat dan subur, lalu cepat berbuah agar nanti bisa dinikmati bersama. Aamiin.

Membuat lingkaran lalu berdoa sebelum pulang.

Kalau kamu mau ikutan kegiatan-kegiatan seru di Rumah Belajar ICHI, kamu bisa lihat informasi kegiatan-kegiatan kami di :

Facebook IndoCharity
Twitter @indocharity

Salam,
Kak Riwe.